Buku
“Dasar-Dasar Menulis Dengan Penerapannya”
Dr.
Zulkifli Musaba, M.Pd
Dr.
Mohammad Siddik, M.Pd
A.
Pendahuluan
Mengarang
atau disebut juga dengan istilah menulis merupakan keterampilan berbahasa yang
paling penting dikuasai, setelah seseorang terlebih dahulu terampil
mendengarkan (menyimak), berbicara dan membaca. Oleh karena itu, umumnya orang
mengangggap atau berpendapat bahwa mengarang atau menulis itu sesuatu yang
sulit. Perlu ditambahkan disini bahwa istilah mengarang dengan menulis tidak
dibedakan.
Banyak
pelajar atau mahasiswa yang lemah sekali kemampuan mengarangnya. Mereka ataupun
kita tampaknya lebih terbiasa melakukan kegiatan berkomunikasi secara kegiatan
komunikasi secara lisan atau berbicara. Artinya jika kita dibandingkan dengan
kegiatan komunikasi menulis atau mengarang jauh lebih rendah kadar nya. Hal ini
mungkin yang menyebabkan kita merasa asing atau terkadang tidak mampu melakukan
kegiatan mengarang sebagai perwujudan bentuk komunikasi tertulis. Pada kita
semuatentu tidak bisa melepas diri dari
kegiatan ini. Walaupun dalam hal-hal sederhana seperti menulis surat atau
menyampaikan kabar/informasi tertulis kepada keluarga, kenalan, rekan sekerja,
dan kepada siapa saja yang kita perlukan. Bagi para wartawan juga setiap
harinya selalu berurusan dengan bahasa
tulis disampaikan melakukan kegiatan bahasa lisan seperti berwawancara
dengan orang-orang yang menjadi sumber berita. Mereka yang mengaktifkan diri pada organissasi, tentu sering membuat
laporan atau harus membuat semacam kesimpulan suatu rapat, seminar, diskusi,
dan kegiata lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kita sama sekali tidak bisa
melepaskan diri dari perbuatan menulis. Mereka yang bekerja suatu instansi atau
kantor tertentu, tidak jarang diminta oleh pimpinan atau atasannya untuk
memberikan sambutan tertulis, yang
sedikit banyaknya harus dirancang terlebih dahulu. Begitulah seharusnya, semua
kita sebaiknya berupaya untuk memperbaiki atau meningkatkan kemampuan kita
dalam menulis.
Kepandaian
seseorang dalam mengarang untuk selalu ditentukan oleh tinggi rendahnya tingkat
pendidikan, tetaapi lebih banyak ditentukan oleh kuat dan kerasannya kemauan,
banyak latihan yang dilakukan (rutin), dan tentu saja faktor bakat yang juga mempengaruhi “jadinya” seseorang
membentuk dirinya sebagai penulis. Jelaslah bahwa, faktor bakat jika tidak
dikembangakan, maka ia bagaikan mutiara yang terpendam di dasar laut. Kita harus
melakukan penyelaman dengan peralatan dan perbekalan yang cukup, agar bisa
menemukan mutiara itu untuk kita gosok hingga bercahaya dan memikat bagi siapa
yang melihatnya.
Menurut
Pembudi dalam bukunya yang berjudul “Cara Menulis Buku Non Fiksi dan Petunjuk
bagi Pengarang” menyatakan bahwa menjadi pengarang, calon pengarang harus
belajar sendiri; salah satu caranya ialah dengan mulai mengarang dan
meneruskannya sampai. Dengan demikian, jelaslah bahwa kepandaian mengarang
hanya diperoleh dengan banyak melatih diri untuk mengarang. Oleh karena itulah,
segala macam buku yang berisi penuntun atau petunjuk pengarang, pada akhirnya
hanyalah alat bantu atau sebagai penunjang bagi calon pengarang. Walaupun
demikian kita harus tetap banyak mengkaji atau menelaah buku-buku atau bahan
bacaan yang membicarakan atau yang memberi arahan tentang kegiatan
karang-mengarang yang kini sudah banyak bereadar atau dijual di kotoko buku.
1.1 Menulis sebagai Bentuk Keterampilan Berbahasa
Keterampilan
menulis atau dengan sebutan menulis merupakan suatu bentuk keterampilan
berbahasa disamping ketiga keterampilan
yang lain, yaitu keterampilan mendengarkan (menyimak), keterampilan berbicara
dan keterampilan membaca. Keempat keterampilan itu pada dasarnya merupakan satu
kesatuan atau catur tunggal (Tarigan, 1982:1).
Keempat
keterampilan berbahasa itu saling berkaitan satu sama lain. Pemerolehan keempat
keterampilan ini ada yang didapat atau dikuasai secara alamiah (secara
sendirinya ) seperti mendengarkan dan
berbicara. Walaupun dalam proses selanjutnya kedua keterampilan ini ada yang
dikuasai melalui cara-cara formal atau secar khusus, misalnya dalam rangka tujuan-tujuan
praktis seperti upaya mengkaji sejauh mana seseorang mampu menyerap atau
mengkap apa yang didengar dan mempelajari atau melatih diri dalam meningkatkan pengusaan bahasa lisan seperti adanya kursur
pidato, keprotokolan dan termasuk pula latihan/praktik mengajar bagi calom
guru. Selain itu, ada pula yang mengadakan pendalaman keempat keterampilan
berbahasa tersebutseperti para mahasiswa yang berstudi pada jurusan Bahasa pada
Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan atau FKIP. Mereka bertahun-tahun mengikuti
perkuliahan keterampilan-keterampilan berbahasa sebagai bekal untuk menjadi
guru atau pengajar bahasa. Secara umumpara mahasiswa ssebenarnya juga mempelajari
keterampilan-keterampilan itu, penekanannya lebih banyak pada keterampilan
menuliskarya ilmiah, misalnya dengan adanya penyajian mata kuliah Bimbingan
Skripsi dan sejenisnya.Oleh karena itu, dapat kita katakana bahwa menulis
merupakan bahan studi atau sumber telaah yang dapat dalam dan mempuunyai
sejumlah teori acuan yang mendasar sebagai salah satu dari empat keterampilan
berbahasa.
1.2
Pengertian Menulis
Untuk
mendefinisikan atau membuat suatu pengertian tentang sesuatu atau hal tertentu
tidakah mudah.banyak yang diantara terbiasa menyebutkan sesuatu baaik benda,
perbuatan atau peristiwa, tetapi bila ditanyakan apa yang kita katakan itu, maka
sangat sulit bagi kita untuk menjawabnya. Karen awajar saja jika orang yang
berpendapat bahwa mendefinisikan sesuatu secara tidak pernah tercapai. Ada pula
yang menyatakan bahwa seseorang sama, hanya tepat dengan sesuatu itu. Benda A
hanya sama dengan benda A, dan
seterusnya. Pendifinisian seperti ini tentu sekali tidak memberikan kejelasan
malah bisa lebih menggabung . Oleh karena itu, sebaiknya kita berusaha membuat
suatu pengembangan apa saja yang memang kita perlukan.
1.3 Tujuan Menulis
Secara garis besar, penulis dengan
tulisannya berupaya untuk memberikan atau menyampaikan segala bentuk dan macam
informasi kepada pembaca. Tentu saja penulis dengan karyanya itu berharap agar
pembaca menerima semua yang diungkapkannya sebagai masukan yang berharga.
Disini ada semacam unsur yang memengaruhi dari penulis kepada pembaca. Bila
tujuan penulis tercapai, maka dengan sendirinya pembaca telah merasa
mendapatkan sesuatu dari penulis.
Dengan
demikian, kita tidak bisa memisahkan antara tujuan menulis dengan tujuan
penulis itu sendiri. Penulis melalui pengungkapannya mengharapkan apa-apa yang
diungkapkannya itu bisa sampai sesuai dengan konsep berpikir penulis yang
tertuang dalam karangan. Disini tidak akan terjadi penyimpangan atau salah
penerimaan. Oleh karena itu, sudah selayaknya penulis membuat atau menyusun
tulisannya dengan bahasa yang mudah dipahami, jelas dan penyajian yang sistematis atau teratur.
1.4 Menulis Sebagai Kegiatan Tertulis
Seperti yang telah disebutkan di
atas bahwa menulis adalah suatu keterampilan berbahasa yang bertujuan untuk
memberikan segala bentuk informasi dari penulis kepada pembaca. Pemberian
informasi pada hakikatnya merupakan proses komunikasi. Keterampilan berbahasa
ini bisa diartikan sebagai wujud kemampuan dalam berkomunikasi lebih singkat
lagi dapat dikatakan bahwa berbahasa berarti berkomunikasi atau melakukan
hubungan antar manusia.
Komunikasi melalui bahasa dapat
berwujud lisan (melalui berbicara) dan dapat pula berwujud tulisan. Karenanya,
menulis disebut juga bentuk kegiatan
komunikasi tertulis (komunikasi tidak langsung antara penulis dengan
pembaca).
B. Teori dasar menulis
Jika kita pergi
ketoko-toko buku , maka tidak sedikit
kita temukan buku yang menguraikaan tentang tulis menulis. Ada buku yang khusus
membahas cara membuat jenis karang tertentu seperti; petunjuk menyusun atau
menulis karangan ilmiah, bagaimana menulis karangan kesusastraan, dan untuk
keperluan kerangan yang lain.
Bagaimana
lengkap dan jelasnya buku tentang tulis menulis itu, pada akhirnya hanya
sebagai penuntun atau penunjang. Sebagai calon pengaranglah yang menentukan
berhasil tidaknya dalam membuatu suatu
karangan karangan yang baik. Namun demikian, tentu saja segala buku yang
membicaraakan tentang tulis menulis atau karang mengarang tetap diperlukan dan
patut dipelajari sebagi bekal kita daalam menyusun suatu karangan.
Apa yag
dikemukakan dibaagian teori dasar menulis ini bukan suatu kemutlakan yang harus
dijadikan sebagai acuan dalam proses menulis. Namun demikian, secara umum bahwa
kegiatan atau langkah yang ditempuh dalam menulis paling tidak ada lima bagian
yaitu : penentuan tema dan judul karangan, perumusan masalah, dan pembatasan
masalah, penetapan metode penulisan dan yang
berhubungan dengan tujuan penulisan, pembuat garis-garis, apa yang akaan dimuat
dalam karangan atau kerangka karangan daan hal-hal yang berhubungan dengan
penataan karangan.
Dengan demikian,
khususnya bagi penulis pemula, bagi pelajar dan mahasiswa perlu mengetahui
langkah-langkah dasar, yang boleh kita katakana sebagai teori sederhana dalam
mengarang.
1.1 Penentuan
Tema dan Judul
Menurut Goreys
Keraf (1980:107) memberikan suatu batasan tentang tema, yaitu suatu amanat
utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Dalam Kamus Umum
Bahasa Indonesia susunan Poerwadarminta yang diolah kembali oleh Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa disebutkan bahwa arti kata tema , antara lain
adalah pokok pikiran atau dasar cerita (yang
dipakai sebagai dasar mengarang).
Dengan
memerhatikan uraian diatas , dapat ditarik kesimpulan bahwa tema adalah amanat
yang disampaikan penulis melalui karangannya, yang menjadi inti atau isi pokok
karangan.
Disamping itu,
kita sering menemukan istilah tema dari sudut lain, yaitu yang biasa kita
dengar atau kita baca pada spanduk atau pengumuman dalam kegiatan tertentu.
Misalnya, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan, oleh panitia peringatan
dibuatkan tema tertentu. Sehubungan dengan Hari Anak-Anak, bisa juga ditemui
tema yang dipilih dan menjiwai setiap acara yang diselenggarakan. Untuk Hari
Sumpah Pemuda, ada pula temanya. Setiap tahun peringatan temannya tidak selalu
sama. Ada pula dalam rangka kegiatan seminar, diskusi, musyawarah, dan
pertemuan lainnya, dibuatkan orang temanya. Begitulah seterusnya. Jadi, tema
merupakan pusat perhatian atau inti pembicaraan, dapat pula disebut semacam
kebutuhan pemikiran. Untuk itu, biasanya setiap tema dirumuskan secermat dan
setepat mungkin.
Terimakasih Artikelnya, maaf saya izin save artikelnya. Terimakasih
BalasHapus