Jumat, 04 Maret 2016

Hatiku Selembar Daun



Hati ku Selembar Daun


 “Kamu jangan pernah pergi tinggalin aku ya.” Ucapan Juan itulah yang selalu menghantui pikiran ku. Aku selalu teringat kenangan masa lalu ku bersamanya. Taman belakang inilah yang telah menjadi saksi bisu persahabatan kami.
Semilir angin lembut, membelai rambut panjang ku yang ku biarkan terurai. Hari ini aku ingin sekali duduk dan menghabiskan waktu disini. Ya, disini di taman ini. Entah apa yang membuat ku ingin pergi ke taman ini. Tiba-tiba saja aada yang mendorong hati ku tuk pergi kesini. Ku lihat sekeliling taman, tak banyak yang berubah. Hanya saja bunga mawar merah itu yang baru ku lihat. Mungkin Bibi baru menanamnya. Saat aku kecil ditaman ini tidak ada tanaman mawar, mungkin waktu dulu bibi tidak ingin aku terkena durinya saat aku bermain ditaman ini. Karena Bibi tahu kalau aku selalu bermain ditaman ini bersama Juan. Juan adalah sahabat ku. Sahabat semenjak aku kecil hingga sekarang kami masih bersahabat baik. Akan ku cerita hal yang membuat ku sakit karenanya. Ini bukan tentang cinta, ini juga bukan tentang perasaan. Pikiran ku pun melesat jauh mengingat kebersamaan aku dan Juan. Tak  terasa dengan begitu saja air mata ku jatuh. Entah apa penyebabnya.
Semenjak aku ikut bersama Bibi, semenjak itu pula aku mengenal Juan. Sebuah desa yang jauh dari hingar bingar keramaian. Ayah ku adalah seorang raja. Seorang pemimpin negara. Semenjak kepemimpinannya Ayah ku seorang raja yang sangat terkenal. Semua orang pastikenal padanya. Namun,  tak sedikit juga orang yang membencinya, iri akan kekuasaan yang dimiliki keluarga kami. Kerena itulah aku ikut bersama Bibi. Orang tua ku tak ingin rasa iri orang-orang membuat ku celaka.
Aku masih ingat ketika kerajaan kami diserang oleh sekelompok orang tak dikenal. Sekelompok orang itu adalah pemberontak yang ingin menguasai kekayaan alam negeri kami. Negeri Seribu Cahaya. Ayah dan Ibu ku terbunuh saat pemberontakan itu terjadi. Sementara kerajaan digantikan oleh Paman ku. Bibi pernah bilang , nanti saat umur ku sudah 17 tahun. Aku dan Bibi akan tinggal di Istana menyusul Paman. Aku akan menggantikan tahta Ayah. Karena aku satu-satunya keturunan dikerajaan kami.
Disini lah sosok Juan hadir dalam kehidupan ku. Aku telah menganggap Juan seperti keluarga ku sendiri. Semenjak Ayah dan Ibu tiada, Juan lah yang selalu menyemangati ku. Ia juga selalu menghibur ku kala akuteringat akan ibbu dan ayah. Bahkan ia berjanji pada ku, takkan pernah membiarkan aku merasa sedih.
Berkat diri mu …
Ku temukan kembali…
Merah dipelangi ku yang hilang…
***
Berlari kesana kemari, hingga kami selalu lupa kalau hari sudah senja. Melihat keakraban ku bersama Juan. Bibi ku turut senang karena aku mempunyaiteman bermain. Hari  demi  hari kami lewati dengan kebersamaan.Tak terasa aku dan Juan menginjak masa remaja. Kedekatan kami pun semakin terlihat. Mungkin karena lamanya waktu membuat kami tahu akan arti sebuah persahabatan.
Namun ada yang membuat semua ini berbeda. Sebuah rasa yang membuatnya lebih berwarna. Dulu aku memandang kebaikan Juan serta kedekatan kami itu sebagai hal yang biasa saja. Tentunya rasa ini membuat aku memandang Juan berbeda tak seperti dulu, lebih istimewa. Sebuah rasa yang tau diucapakan dengan kata namun layak dirasakan oleh hati yaitu cinta. Ku biarkan begitu saja perasaan itu, aku tidak ingin Juan mengetahuinya. Aku takut kalau dia menjauh dari ku hanya karna rasa ini.
***
Hari ini adalah hari ulang tahun ku yang ke 17. Bibi berniat untuk merayakannya. Aku pun sangat bahagia, karena perayaan ulang tahun ku ssekaligus penobatan menjadi purti kerajaan. Disisi lain aku memahami bagaimana aku dapat memimpin dan mengendalikan negeri seluas ini. Sedangkan aku tak bukan hanya putri kecil yang berumur 17 tahun. Tahu apa tentang masalaah kerajaan.“Isabel, kamu tak usah bingung. Bibi dan paman akaan mendampingi mu. Selama kau menggantikan ayah mu.” Aku pun merasa senang bibi dan paman selalu baik pada ku. Aku pun memeluk mereka berdua. Saaat itu Juan tsk terlihst batang hidungnya. Hanya kado dan surat yang ia titipkan kepada salah satu pengawal.
Ulang tahun ku ini terasa berbeda dari tahun-tahun biasanya. Bukan karena kado yang ku terima lebih kecil, namun ketidak hadiran Juanlah penyebabnya. Saat kado dan surat Juan diberikan pada ku. Dengan cepat aku berlari menuju kamar ku, sembari membawa kado dan surat itu. Rasa penaasaran ku pun kian menjadi. Sesampainya dikamar. Aku sudah tidak sabar lagi untuk membuka surat dari Juan. Dengan cepat ku buka surat itu.
“Happy birthday putri Isabel. Maaf aku tidak bisa datang. Aku tahu kau pasti ingin tahu apaa alas an ku hingga tak bisa hadir dipesta ulang tahun mu. Sekaligus penobatan mu menjadi Putri yang memimpin kerajaan. Aku malu berteman dengan mu. Aku hanya rakyat biasa, sedangkan kau adalah seorang putri kerajaan. Tak sepantasnya berteman dengan Tuan Putri. Ijinkan aku tuk pergi meniti kehidupan ku sendiri. Aku akan bekerja di Negeri Seberang. Maafkan aaku yang mulia.”
Tertanda
Juan Mahesa
Tak ku sangka butiran air mata memetes dipipi ku, membasahi surat Juan. Aku tak sanggup kalau harus berpisah dengannya. Ku sapu air mata ku, perasaan ku menjadi terluka. Namun, aku teringat akan penobatan ku. Sekarang aku sudah menjadi seorang Putri yang memegang kerajaan. Tak sepaantasnya aku menangisi hanya karena hal sekecil ini. Aku harus terlihat kuat dimata rakyat ku. Bagaimana pu aku adalah seorang Putri. Tidak boleh terpuruk oleh keadaan. Diluar sana rakyat ku memerlukan ku.
***
Semenjak kepemimpinan Putri Isabel, Negeri Seribu Cahaya  menjadi semakin Berjaya. Makmur akan sumber daya alam yang dimiliki Negerinya. Rakyat pun msangat senang karena dipimpin oleh putri yang sangat baik hati juga cantik jelita. Kehidupan dalam Istana begitu ceria, bahkan tak jarang Putri Isabel berkeliling Desa untuk melihat keadaan rakyat-rakyatnya. Kehadiran Tuan Putri disambut dengan baik oleh  rakyatnya. Semua orang tahu kalau Tuan Putri seseorang yang periang yang mampu menghibur orang lain yang berada didekatnya.
Tak lama kemudian tersiarlah kabar tentang kemakmuran Negeri Seribu Cahaya. Beita ini terdengar sampai ke telinga Raja Fernando. Raja Fernando adalah Raja Negeri Seberang yang terkenal akan keserakahannya. Mendengar berita itu raja Fernando pun berniat ingin menyerang kerajaan Putri Isabel itu. Raja Fernando sangat berambisi untuk menguasai Negeri itu yang makmur akan sumber dayaa alam berupa batubara,intan,minyak bumi dan juga tambang emas yang melimpah.
Keserakahan dan ketamakan telah berhasil menggelapkan mata hati Raja Fernando. Dia tak segan-segan melakukan cara yang jahat  sekalipun demi mewujudkan keinginannya itu. Hari itu Raja Fernando memerintahkan seluruh prajurit dan pannglima perang kerajaan untuk berkumpul menghadapnya. “Pengawal beritahukan kepad seluruh prajurit dan panglima agar bekumpul didepan Istana. Cepaaat !!!.” Ba…baiiik Tuan.”
Pengawal pun pergi meninggalkan Raja. Ia lalu mengumumkan kepada seluruh prajurit  dan panglima perang untuk menemui Paduka didepan Istana sekarang ini juga. Mendengar pemberitahuan itu semuanya langsung bergegas menuju halaman depan Istana. Mereka tidak ingin sampai Raja Fernando menunggu lama. Mereka tahu bagaimana kalau Raja Fernando sedang murka, semuanya akan kena masalah.
Selang beberapa menit Raja Fernando datang. Semua yang ada disana langsung berdiri menundukkan kepala, tanda penghormatan keada Raja mereka. Kursi megah, berkilau yang terbuar dari emas. Serta disekeliling kursinya dipenuhi oleh permata. Tak hanya itu, setiap detail kursi itu pun dibuat dengan penuh perhatian, serta letak tempat setiap permata. Dapat dilihat dari kursi singgasananya saja sudah menandakan bahwa betapa sekarakahnya Raja Fernando ini. Setelah Raja Fernando duduk kursi itu, ia lalu memberitahukan tujuan serta maksud hatinya mengumpulkan semua prajurit dan panglima perang. Salah seorang panglima mengajukan pertanyaan kepada Raja Fernando. “Maaf Paduka, apakah  ada suatu masalah yang besar hingga Paduka mengumpulkan kami disini. Sepengatahuan hamba keadaan Istana serta kerajaan kita baik-baik saja.”  Mendengar pertanyaan itu Raja Fernando tersenyum, tak pernah dia tersenyum manis seperti ini. Ada apa ini?
Melihat Raja tersenyum semua prajurit yang berkumpul menjdi terheran-heran atas senyuman Raja Fernado, semuanya semakin penasaran. “Yak au memang benar panglima.” Melihat ekspresi wajah sang Raja. Mereka semakin bingung. “Untuk apa mengumpulkan semua orang kalau tidak terjadi apa.” Gerutu salah seorang prajurit kepada temannya. ”Lalu tentang perihal apa kah ini Paduka?.” Apakah kalian tahu dengan kerajaan Seribu cahaya. Negeri yang dipimpin oleh Putri Isabel ?.” “Ya.” Semuanya serentak menjawab pertanyaan Sang Raja. “Semua orang juga mengetahuinya, karena kemakmuran Negeri itu. Hasil bumi dan tambang emas juga sangat melimpah di Neggeri itu”. Jawab seorang prajurit lainnya. Raja Fernando tertawa dengan angkuhnya. “Hahaaaa. Kau benar sekali Prajuri ku. Kalian pasti sudah tahu tujuan ku kan? Aku ingin mengusai Negeri itu. Aku ingin merebut kekuasaan Putri Isabel. Besok siapkan 10.000 prajurit, untuk menyerang kerajaan Putri Isabel.”
Keesokan harinya dengan waktu yang begitu singkat, Raja Fernando beserta seluruh pasukannya pergi menuju kerajaan Seribu Cahaya. Raja Fernado dengan semangat yang berkobar-kobar untuk merebut kekuasaan dari tangan Putri Isabel.
 “Prajuriiiiiit. Apakah semuanya sudah dipersiapkan?.”
 “Sudah Paduka.”
“Pastikan bahwa kita membawa pasukan yang banyak. Kita akan berhadapan dengan Putri Isabel yang mempunyai pertahanan yang sangat kuat.”
Segala sesuatu telah dipersiapkan. Sesuai dengan permintaan Sang Raja mereka membawa Prajurit yang begitu  banyak. Dengan strategi yang luar biasa. Begitu semuanya telah dipersiapkan Raja Fernando beserta prajuritnya pergi menuju kerajaan Putri Isabel. sekitar pukul 04.00 Raja Fernando serta pasukannya berangkat.
Putri Isabel yag mengetahui bahwa Raja Fernando ingin menyerang kerajaannya, dengan segera Putri Isabel pun memerintahkan kepada seluruh prajurit untuk segera berjaga-jaga disekitar Istana. Tak tanggung-tanggung Putrri Isabel turun tangan menghadapi Raja Fernando. “Itu dia kerajaan Putri Isabel. Seraaaaaaang !!!.” Suara gemuruh yang disebabkan oleh hentakan kaki kuda yang dipacu dengan cepat semakin jelas terdengar. Pasukan Purti Isabel yang telah berjaga didepan Istana bersiap untukmenyerang menunggu perintah dari Sang Putri.  Putri Isabel dengan santainya berdiri paling depan. Menunggu kedatangan pasukan Raja Fernando. “Berhentiiii!!!.” Dengan suara yang lantang sang Putri berteriak, menyuruh pasukan Raja Fernando tuk berhenti.
Raja Fernando memerintahkan kepada pasukannya tuk menghentikan gerakan kudanya. Raja Fernando berhenti tepat didepan Putri Isabel. “Kau bukan Raja dikerajaan kami. Jadi kau tidak punya kekuasaan untuk memerintah kami semau mu hahaaa…” Semua pasukan Raja Fernando menertawai Putri Isabel. “Aku tidak segan-segan menghabisi nyawa mu. Jadi, ku harap sebelum hal itu terjadi sebaiknya menjauhlah dari kerajaan ku.” Putri Isabel marah kepada Raja Fernando yang dianggapnya begitu lancag memasuki kawasan kekuasaannya. “Memang kau siapa? Hahaaa sekuat apa kekuatan mu. Berani sekali kau menantang ku. Dengar kau hanyalah seorang perempuan biasa yang lemah. Bahkan kau pun masih anak-anak tak sepantasnya kau bertarung dengan ku. Menyerah lah Putri kecil hahahaaa.” Raja Fernando meremehkan Putri Isabel. Mendengar perkataan Raja Fernando Putri Isabel menjadi marah.          “ Prajurit seraaaaaaang !!!
“seraaaaaang !!!
            Perkelahian antara dua kerajaan pun tak dapat dihentikan. Keduanya saling menyerang, mengerahkan semua kekuatan mereka demi pempertahankan kerajaan masing-masing. Sempat beberapa kali putri Isabel terjatuh. Namun, dengan keberanian yang ia miliki ia tetap kuat. Demi rakyatnya Putri Isabel mencoba terua maju kepan mencari Raja Fernando. Entah apa yang membuat Putri Isabel ingin sekali membunuh Raja yang serakah itu. Diantara kerumunan prajurit ia menemukan Raja Fernando. Sambil mengacungkan pedang keleher Raja Fernando ia berkata “Jangan pernah kau meremehkan ku. Walaupun aku hanya seorang perempuan.” “Buktikan lah..”Raja Fernando menentang Sang Putri.” Maka terjadilah perkelahian antara keduanya. “ting…tiing...” Suara pedang antara keduanya kian sangat cepat terdengar. Saling berusaha melindungi diri  masing-masing. “Takkan pernah ku biarkan Negeri ku dikuasi oleh raja serakah seperti mu.” Lihat saja siapa yang menang aku atau kau Putri kecil.” Keduanya saling mengadu pedang mereka.
“Hiaaat…ting..”
“Ting… ting… rasakan ini.”
“Aaaaaaaaaaaaa” Terdengar suara jeritan Putri Isabel. Putri Isabel jatuh tersungkur ditanah. Tangannya gemetar, tubuhnya terasa begitu sakit terpentang jatuh ketanah. Ia teringat  akan kedua orang tuanya serta rakyat-rakyatnya. “Jika aku menyerah dan kalah pasti Ayah,Ibu, serta rakyat ku pasti kecewa pada ku.” Putri Isabel langsung bangkit berdiri kemudian balik menyerang Raja Fernando. Seperti dapat kekuatan yang membuatnya kuat.
Raja Fernando semakin garang. Begitu lihainya ia memainkan pedangnya. Tiba-tiba terdengar lagi suara jeritan kedua kalinya. Jangan-jangan Putri Isabel terkena tebasan pedang Raja Fernando lagi. Ternyata Putri Isabel tidak terluka, melainkan perut Raja Fernando yang terkena tebasan pedang Putri Isabel.” “Aaaaaaaaaaaaaaaaaa.” Raja Fernando kesakitan. Pasukan Raja Fernando pun kian menipis, kalah melawan pasukan Putri Isabel yang mempunyai strategi yang tak kalah hebat dari prajurit Raja Fernando. Kondisi perut terluka membuat keseimbangan tubuh Raja Fernando tidak stabil. Ia terjatuh dari atas kudanya dan tersungkur ketanah. Melihat kaadaan itu Putri Isabel menyerang. Ia berniat membunuh Raja Fernando dengan mengayunakan pedanganya ketubuh Raja Fernando. “Kau sudah tak punya kekuatan lagi, maka rasakan ini.” “Hiaaaaaat..”
Tiba-tiba apa yang terjadi. Sesuatu yang tidak diinginkan, yang tidak sesuai dengan rencana sebelumnya telah terjadi. Tubuh Putri Isabel terpental jauh. Ternyata salah seorang prajurit  kerajaan Fernado menyerangnya. Prajurit itu mengangkat Raja Fernando lalu membawanya begitu saja tanpa memprdulikan Putri Isabel. Pasukan Raja Fernando  perlahan mundur. Peperangan pun dimenangkan oleh Putri Isabel dan pasukannya.
 “Horeeeee…” Semua prajurit kerajaan Putri Isabel berteriak kegirangan atas kemenangan mereka. Puri Isabel menghela nafas panjang. “Putri tidak apa-apa, apakah ada yang terluka?.” Tanya salah seorang prajurit. “Aku baik-baik saja.” Jawaban bahagia dari Sang Putri dibarengi dengan senyuman manisnya. Semua prajurit diperintahkannya masuk kedalam Istana, srta mengobati prajurit yang terluka.
***
Semenjak terjadinya peperangan itu, kerajaan Putri Isabel menjadi tentram. Semua rakyat menyayangi Tuan Putri, mereka bangga kepadanya yang berani turun tangan melawan musuh. Kehidupan di Istana serta di Negeri itu penuh keceriaan. Tapi hal ini bertolak belakang dengan keadaan kerajaan Fernando. Bertahun-tahun lamanya Raja Fernando jatuh sakit akibat luka dibagian perutnya bekas terkena tebasan pedang Putri Isabel. Luka itu memang sudah lama. Namun, tak juga kunjung sembuh. Hari-hari Sang Raja selalau dilewati ditempat tidur. Telah banyak tabib yang berusaha untuk mengobatinya. Usaha itu selalu gagal.
Keadaan ini membuat Raja Fernando sangat menderita. Mungkin Karena rasa sakit yang kian parah yang membuatnya merasa demikian. Tak ada yang bisa ia lakukan selain terbaring lemah ditempat tidur. Sampai suatu ketika dihadapan panglima dan mentrinya. Ia mengatakan  bahwa ia ingin Putri Isabel mati. Ia ingin Putri Isabel juga  merasakan penderitaannya. “Aku raja Fernando bersumpah, siapa saja yang dapat membunuh Putri Isabel dan membawanya salah satu anggota tubuhnya kehadapan ku. Dia akan ku angkat menjadi pegganti ku, sebaagai Raja di negeri ini.”
Secara kebetulan seorang Tabib mendengar hal itu. Tabib itu tak lain adalah Juan. Juan telah lama menjadi Tabib dikerajaan itu. Ia berpikir “Ini adalah kesematan ku untuk menjadi seorang raja. Bukankah ini cita-citaku sejak kecil. Menjadi seorang raja yang terkenal, punya Istana yang megah, serta memiliki harta yang berlimpah. Ya, aku ingin hidup enak, aku ingin mengubah nasib ku, aku akan mencobanya. Tapi bbagaaimana mungkin aku membunuh Isabel sedangkan dia adalah sahabat ku. Aaaah… tidak mungkin aku melakukan hal bodoh semacam itu. Tapi aku ingin menjadi raja, aku tidak ingin menyianyiakan kesempatan ini.” Sesuatu yang tidak pernah terpikir. Seorang sahabat sekaligus orang yang dicintai diam-diam ternyata tega ingin membunuh Putri Isabel. Hanya karena harta dan jabatan. Bukan saja mata yang gelap namun, ata hati pun juga ikut gelap karena uang. Uang, harta dan tahta dapat saja mengubah segalanya. Menjadikan orang baik menjadi jahat.
Besok harinya juan pergi ke Negeri Seribu Cahaya, berniat ingin menemui Putri Isabel. Sesampainya disana, kedatangan Juan disambut bahagia oleh Putri Isabel. Bagaimana tidaak bahagia, melihat sahabat sekaligus lelaki yang dicintai berada dihadapannya.
 “Juan, apakah itu kau?.”
“Iya, ini aku Juan, Tuan Putri.”
“Jangan panggil aku dengan sebutan Tuan Putri, panggil saja nama ku. Kau kan sahabat ku.”
Dengan wajah  dan mata yang berbinar-binar keduanya berpelukan. Melepas semua kerinduan yang telah lama mereka rasakan.
Juan dan putri Isabel menuju sebuah taman, tempat yang dulu menjadi tempat bermain mereka berdua. Sekaligus tempat tuk menghabiskan waktu berdua disana. Taman ini menjadi saksi bisu persahabatan mereka, menjadi kenangan waktu mereka kecil.
“Juan semenjak kau pergi hidup ku terasa kurang. Taka da lagi yang menghibur ku setelah rasa penat dan letih menjadi Putri dikerajaan ini. Beruntung kali ini kau datang., aku ingin menceritakan semua rasa gundah pada mu.”
 “Ya Isabel, ceritakan lah semuanya pada ku, aku akan mendengarkannya.”
“Kau memang lelaki yang baik Juan.” Ratu Isabel tersenyum sambil menatap wajah Juan. “Boleh kah aku merebahkan kepala ku dipangkuan mu. Mehilangkan segala rasa penat yang aku rasakan.” Juan menyahut, tanda mengiyakan permintaan ratu Isabel. Sebelum sang Putri Berbaring dipangkuan Juan. Juan menyuguhkan segelas the kepada sang Putri. Semua orang tahu bahwa the baik untuk membantu meningkatkan mood seseorang agar pikiran menjadi tenang.
            Setelah meneguk segelas the, Putri Isabel kembali merebahkan kepalanya kepangkuan Juan. Isabel bercerita segala hal pada Juan. Canda serta tawa menyertai mereka berdu. Sebuah taman mampu  menyatukan keduanya. Merasa lelah, Putri Isabel tertidur pulas dipangkuannya Juan. Juan dengan niat awalnya. Ia melihat kearah gelas teh yang tergeletak ditas rerumputan. Teh itu telah diberi obat tidur oleh Juan. Juan menatap wajah Isabel, yang tertidur pulas dipangkuannya.  Juan kembalii lagi kepada rencananya, yang ingin membunuh Isabel.
“Maafkan aku Isabel, ini adalah kesempatan ku untuk meraih cita-citaku. Ia mengangkat kepala Isabel dan meletakkannya diatas jaket yang ia lepas hanya untuk sebagai alas kepala Isabel.
Juan berdiri lalu mencabut pedangnya dari sarungnya. Perlahan namun pasti dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan berniat menebaskannya ketubuh Isabel. Pedang itu tepat ditubuh Isabel. Tubuh dan tangan Juan gemetar, ia menghentikan ayunan pedangnya. Juan tersungkur dihadapan Putri Isabel, ia tak kuasa melakukan hal itu pada Isabel. Apalagi kalau mengingat kebaikan, serta persahabatan yang mereka jalin selama ini.  
“Sejak kecil aku dan dia selalu bersama. Tak mungkin aku membunuhnya.” Butir-butir air mata tak terasa jatuh dari mata Juan. Perasaanya menjadi kacau , ia delema. Disisi lain dia ingin menjadi seorang raja, namun dari sisi yang lain ia tak sanggup membunuh sahabatnya. Orang yang sangat dicintainya. Waktu yang lama membuat Juan tersadar dengan tujuan awalnya yaitu membunuh Isabel dab menjadi raja. Lagi-lagi ia tersungkur. Semuanya dapat saja terkalahkan denngan iming-iming harta dan tathta. Namun , perasaaan tidak pernah bisa dibohongi. Sekuat-kuatnya caangkang yang melindunginya, namun masih ada bagian lunak ditubuhnya yaitu hati. Dalam hatinya perasaan sayang terhadap Isabel masih ada. Rasa cinta serta kasihan nya telah terkalahkan oleh rasa keinginannya yang besar menjadi raja. Untuk ketiga kalinya Juan pun kembali mengambil ancang-ancangnyauntuk menebaskan pedangnya ketubuh Isabel. Nat yang tadinya begiu kuat ingin  membunuhnya namun Juan hanya menebaskan pedangnya kelengan Isabel.
            Isabel masih tetap terjaga dalam tidurnya. Ia tak mengetahui hal yag telah menimpa dirinya. Juan yang melihat lengan Putri Isabel yang terpotong, merasa sangat bersalah atas apa yang telah dilakukannya. Tak terasa ia menatap wajaah Isabel yang tertidur.
“Maafkan aku Isabel.” Juan langsung meninggalkan Putri Isabel dan membawa potongan lengan kiri Isabel. Potongan lengan itu dibungkusnya dengan selembar kain. Agar tidak ada yang mengetahuinya. Dalam perjalanannya menuju kerajaan Fernando Juan mendengar teriakan Putri Isabel. Teriakan dan tangisan yang sungguh menyayat hati Juan. Diselimuti rasa bersalah ia tetap melanjutkan langkahnya memancu kudanya dengan cepat. Ratu Isabel terbangun daari tidurnya. Awalnya ia tidak mengetahui lengahnya putus. Ia hanya merasakan sakit dibagia lengan kirinya. Setelah sadar ia melihat lengannya putus. Ia menangis sembari berteriak sekuat tenaganya. Ratu Isabel tak menyangka bahwa Juan  telah melakukan itu padanya.
“Siapa orang yang telah berani menebas lengan ku?. Juan, iya Juan. Hanya dia yang bersama ku disini. Siapa lagi kalau bukan dia orangnya?.” Amarahnnya pu kian menjadi setelah mengetahui orang yang selam ini ia percaya. Sahabatnya tega melakukan itu padanya. Ratu Isabel menangis sembari tidak percaya. “Aku menyesal telah mencintainya.”
Isabel bangkit dari tidurnya,ia mecoba untuk berjalan. Namun, rasa sakit itu membuat  tubuhnya tak seimbang berdiri.”Ia mencari potongan ranting menjadikannya tongkat untuk membantu ia berjalan. Rasa sakit itu kian terasa hingga tubuhnya tak sanggup lagi berjalan. Membuat ia tersungkur ketanah.ia berusaha menahan rasa sakit itu kemudian kembali berdiri dan kembali meraih tongkatnya. Setiap apa saja yang dilaluinya langsung berubah. Dedaunan yang rindang langsung kering, rerumputan yang hijau mati.Hamparan hijau rerumputan langsung menjadi  tandus , burung-burung beterbangan. Langit yang tadinya cerah langsung berubah menjadi gelap. Seakan semuanya tahu dan merasakan bagaimana perasaan Putri Isabel. Dengan jalan tertatih-tatih Putri Isabel memasuki Istana nya. Semua orang merasakan aada yang berbeda dari Putri Isabel.
 “Astagaaa tangan kirinya mana.”  Kata salah seorang diantara mereka kepada rekannya. Putri Isabel menatapnya. Dengan tatapan yang tajam berbeda dengan sebelumnya. Semua orang  menjadi takut padanya. Seakan amarah Putri Isabel kian memuncak. Pengkhiatan sesuatu yang paling kejam.  Oraang yang awalnya baik berubah menjadi orang jahatt. Begitu pun dengan Putri Isabel. Semenjak kejadian itu semua rakyat nya menjadi takut padanya. Kerajaan hidup dengan penuh rasa amarah sang Putri. Dia tak terlihat ceria seperti dulu lagi. 360 derajat terbalik dari biasanya.
            Berbeda dengan Juan, sesampainya dikerajaan Fernando. Ia langsung menyerahkan potongan lengan Isabel kepada raja Fernando. Raja Fernando yang melihat potongan lengan itu terkejut. “Bagaimana kau bisa melakukannya. Kau sungguh hebat Juan. Aku akan menepati janji ku. Kau akan ku anngkat menjadi raja, meengantikan aku.”
***
Berita pengangkatan Juan  sebagai raja terdengar sampai ketelinga putri Isabel. Amarahnya kian memuncak. “Terbukti sudah bahwa dia rela melakukan ini hanya karena ingin menjadi seorang raja.” Salah satu pengawal memberitahukan paadanya bahwa Juan ingin melangsungkan pernikahan dengan putri raja Fernando.
Hari ini Juan akan menikah. Hari ini adalah hari kebahagiaannya. Juan tidak membagi kebahagiaannya dengan sahabatnya itu. Selama acara pernikahan berlangsung. Putri Isabel tidak diundang. Putri Isabel hanya bisa terdiam dengan apa yang dilakukan Juan kepada diirinya.  Rasa sayang telah berubah menjadi kebencian. Tiba saatnya permaisuri melahirkan . Isabel mengetahui ini semua dari seseorang yang dekat dengan Juan.
Kelahiran seorang anak didalam kerajaan menjadi hal yang perlu dirayakan. Hari itu raja Juan dan permaisuri ingin mengadakan sebuah pesta besar. Sebagai pesta pemberkatan anak mereka. Bayi yang lucu, terlihat dari paasnya bahwa kelak sat ia dewasa akan menjadi seorang putri yang cantik. Pesta itu berlangsung sangat meriah. Raja Juan tidak pernah berpikir bahwa Purti Isabel akan datang kepestanya. Putri Isabel bermaksud datang ingin melihat  sang bayii. Semua orang menjadi takut dengan kedatangannya. Purti Isabel ingin ikut memberkati bayi Juan. Namun, Juan tidak pernah membiarkan hal itu terjadi.
“Mau apa kau datang ke Istana ku.”
 “Aku ingin memberkati anak mu.”
“Jangan pernah ka sentuh anak ku. Aku tidak akan mengizinkan mu memberkati anak ku, Isabel. Pengawal tangkap dia jangan biarkan dia menyentuh anak ku.” Isabel ditangkap dengan cara paksa. Merasa terhina Putri Isabel mengalah ia memilih tuk pergi meninggalkan Istana Juan.
            Juan yang dpenuhi rasa bersalh. Ini merasa seolah-olah kedatangan Putri Isabel adalah untuk mencelakan Putri kecilnya. Ia berpikir Isabel akan balas denda atas hal yang telah perah dia lakukan kepada Isabel. Disebuah kamar rahasia tempat Juan menyipan potongan lengan Putri Isabel. Ia menangis disertai rasa penyesalan yang mendalam. Terkadnag ia tertawa dengan sendirinya tanpa ada yang tahu ia tertawa karena apa. Metal Juan tertekan karena ia tidak mampu lagi membendung pikirannya . Ia seprti orang yang kehilangan akal sehatnya. Ia merasa hidupnya tak akan pernah tenang, jika ratu Isabel masih hidup. Juan berniat ingin membunuh Isabel. Rajaa Juan mengerahkan segala kekuatan yang ia miliki untuk menyerang kerajaan Isabel. Keadaan yang putus membuat Putri Isabeltak dapat melawan banyak. Ia tertangkap dan dibawa ke Istana, diserahkan kepada Raja Juan.
            Sesampainya di Istana Putri Isabel didorong, ia terjatuh dihadapan Juan. Isabel menoleh kearah Juan. Betapa terkejutnya Isabel melihat Juan sudah memegang pedang ditangannya kanannya. “Juan apa yang ingin kau lakukan pda ku, apakaah kau ingin membunuh ku.” “Kau benar Isabel aku ingin membunuh mu. Karena hidup ku tak tenang bila kau belum mati. Kali ini aku akan membunuh mu.” Lagi-lagi hal ini mebuat Putri Isabel terkejut. “Tidak puas kah kau selama ini sudah membuat aku menderita, memotong lengan ku hanya karena kau ingin menjadi seorang raja. Sekarang kau ingin membunuh ku lagi. Lakukan lah semua keinginan mu Juan.”
            Saat yang bersamaan prajurit dari kerajaan Isabel datang, menobrak pintu pertahanan kerajaan Juan. Karena mereka tahu kalau Putri Isabel ditangkap dan dibawa oleh prajurit Juan. Pasuk yang banyak membuat Juan memerintahkan prajuritnya tuk melawan pasukan Isabel. Terjadilah perang yang sangat besar antar kedua kerajaan hingga menewaskan Permaisuri. Perang tak dapat dibendung lagi, amarah serta kekesalan telah menyelimuti Putri Isabel. Kali ini Putri Isabel  berhadapan langsung dengan Juan. Juan memukul Putri Isabel dari belakang hingga membuatnya jatuh tersungkur. Kondisi tubuh yang tak lengkap membuat Putri Isabel lemaah, ia tak dapat melawan.
“Isabel, mana kekuatan mu. Hanya segini sajakah kekuatan yang kau punya?. Ayooo lawan aku Isabel.” Putri Isabel tesungkur, kepalanya mengenai tembok Istana. Dengan keadaan tangan kanannya sambil merintih menahan rasa sakit. Ia mencoba mengangkat tubuhnya dan berdiri.
“Juan inikah pembalasan mu kepada ku. Setelah kau ingn membunuh ku.”
“Hahahaaa tentu saja. Itulah tujuan awal ku. Aku akan membuuh mu Isabel. Kau tahukan dari kecil aku ingin menjadi raja dan itu telah ku dapatkan.
“Apakah sekarang kau puas mengorbankan aku untuk mendapatkannya.”
“Tidak, aku belum puas. Kalau aku belum membunuh mu. Aku merasa hidup ku tidaak akan tenang jika kau masih hidup. Dan sekarang aku akan membuuh mu.”
“Kau memang kejam Juaaaan. Tak seharusnya kau menjadi raja.”
“Apaaaaa…kau berani mengatakan itu pada ku.”
            Juan mengarahkan tebasan pedangnya kearah Isabel. Isabel berhasil menghindarinya. Dengan keadaan terjatu Isabel mencoba meraih pedang yang tergeletak disampingnya. Perlahan ia terus mencoba meraihnya. Jarak Isabel dengan pedang itu terlalu jauh. Tiba-tiba datang dengan hawa jahat. Menebaskan kembali pedang itu. Isabel berguling menghindarinya. Hingga ia dapat meraih pedang itu. Dan menyerang balik Juan. Juan membalasnnya hingga pedang itu mengenai jemarinya.
“Kau takkan pernah bisa membunuh ku.”
Sssssst…tebasan pedang Isabel mengenai perut Juan.Juan menjerit kesakitan. Mencoba mundur menhindari Isabel. Namun Isabel tetap saja menyerang Juan. Juan terus mundur kebelakang. Hingga akhirnya ia jatuh dari atas Isatana.
Keadaan Istana berantakan, mayat-mayat prajurit memenihi ruangan. Juan serta istrinya telah mati. Keadaan menjadi sepi. Putri Isabel dan pprajuritnya berniat untuk pergi meninggalkan Istana itu. Langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara tangisan bayi.
“Ya, itu pasti bayi Juan.”
Isabel berusaha mencari sumber tangisan itu. Ia menemukan keranjang kecil berwarna merah tua. “Tidak salah lagi ini putri juan.”
“Tuan Putri diapakan bayi ini. Haruskah aku membuhnya ?.”
“Jangan, aku akan membawanya.”
Semua heran dengan putri  Isabel. Ia masih bisa merawat anak dari musuhnya. Orang yang selama ini mengincar nyawanya. Isabel membawa bayi itu pulang. Isabel merawat bayi itu dlam Istana dengan penuh rsa kasih sayang.
            Semua ingatan itu selalu saja membuat Isabel teringat. Apalagi setelah ia melihat taman ini. Sosok mungil berlari menuju kearahnya.
“Ibuuuu….” Isabel merangkulnya
Ya, itu adalah Putri Juan. Walaupun ia bukan anak kandung Isabel namun, ia tetap menyayanginya. Isabel berniat untuk merahasiakan semuanya. Ia tak ingin putri kecilnya mengetahui semua kelicikan ayahnya.


Sekeras-kerasnya cangkang melindunginya,
masih ada bagian lunak ditubuhnya yaitu HATI…

Selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar