Hati ku Selembar Daun
“Kamu jangan pernah pergi tinggalin aku ya.”
Ucapan Juan itulah yang selalu menghantui pikiran ku. Aku selalu teringat
kenangan masa lalu ku bersamanya. Taman belakang inilah yang telah menjadi
saksi bisu persahabatan kami.
Semilir
angin lembut, membelai rambut panjang ku yang ku biarkan terurai. Hari ini aku
ingin sekali duduk dan menghabiskan waktu disini. Ya, disini di taman ini. Entah
apa yang membuat ku ingin pergi ke taman ini. Tiba-tiba saja aada yang mendorong
hati ku tuk pergi kesini. Ku lihat sekeliling taman, tak banyak yang berubah.
Hanya saja bunga mawar merah itu yang baru ku lihat. Mungkin Bibi baru menanamnya.
Saat aku kecil ditaman ini tidak ada tanaman mawar, mungkin waktu dulu bibi tidak
ingin aku terkena durinya saat aku bermain ditaman ini. Karena Bibi tahu kalau
aku selalu bermain ditaman ini bersama Juan. Juan adalah sahabat ku. Sahabat
semenjak aku kecil hingga sekarang kami masih bersahabat baik. Akan ku cerita
hal yang membuat ku sakit karenanya. Ini bukan tentang cinta, ini juga bukan
tentang perasaan. Pikiran ku pun melesat jauh mengingat kebersamaan aku dan
Juan. Tak terasa dengan begitu saja air
mata ku jatuh. Entah apa penyebabnya.
Semenjak
aku ikut bersama Bibi, semenjak itu pula aku mengenal Juan. Sebuah desa yang
jauh dari hingar bingar keramaian. Ayah ku adalah seorang raja. Seorang
pemimpin negara. Semenjak kepemimpinannya Ayah ku seorang raja yang sangat
terkenal. Semua orang pastikenal padanya. Namun, tak sedikit juga orang yang membencinya, iri
akan kekuasaan yang dimiliki keluarga kami. Kerena itulah aku ikut bersama
Bibi. Orang tua ku tak ingin rasa iri orang-orang membuat ku celaka.
Aku
masih ingat ketika kerajaan kami diserang oleh sekelompok orang tak dikenal. Sekelompok
orang itu adalah pemberontak yang ingin menguasai kekayaan alam negeri kami.
Negeri Seribu Cahaya. Ayah dan Ibu ku terbunuh saat pemberontakan itu terjadi.
Sementara kerajaan digantikan oleh Paman ku. Bibi pernah bilang , nanti saat
umur ku sudah 17 tahun. Aku dan Bibi akan tinggal di Istana menyusul Paman. Aku
akan menggantikan tahta Ayah. Karena aku satu-satunya keturunan dikerajaan
kami.
Disini
lah sosok Juan hadir dalam kehidupan ku. Aku telah menganggap Juan seperti
keluarga ku sendiri. Semenjak Ayah dan Ibu tiada, Juan lah yang selalu
menyemangati ku. Ia juga selalu menghibur ku kala akuteringat akan ibbu dan
ayah. Bahkan ia berjanji pada ku, takkan pernah membiarkan aku merasa sedih.
Berkat diri mu …
Ku temukan kembali…
Merah dipelangi ku yang hilang…
***
Berlari
kesana kemari, hingga kami selalu lupa kalau hari sudah senja. Melihat
keakraban ku bersama Juan. Bibi ku turut senang karena aku mempunyaiteman
bermain. Hari demi hari kami lewati dengan kebersamaan.Tak
terasa aku dan Juan menginjak masa remaja. Kedekatan kami pun semakin terlihat.
Mungkin karena lamanya waktu membuat kami tahu akan arti sebuah persahabatan.
Namun
ada yang membuat semua ini berbeda. Sebuah rasa yang membuatnya lebih berwarna.
Dulu aku memandang kebaikan Juan serta kedekatan kami itu sebagai hal yang
biasa saja. Tentunya rasa ini membuat aku memandang Juan berbeda tak seperti
dulu, lebih istimewa. Sebuah rasa yang tau diucapakan dengan kata namun layak
dirasakan oleh hati yaitu cinta. Ku biarkan begitu saja perasaan itu, aku tidak
ingin Juan mengetahuinya. Aku takut kalau dia menjauh dari ku hanya karna rasa
ini.
***
Hari
ini adalah hari ulang tahun ku yang ke 17. Bibi berniat untuk merayakannya. Aku
pun sangat bahagia, karena perayaan ulang tahun ku ssekaligus penobatan menjadi
purti kerajaan. Disisi lain aku memahami bagaimana aku dapat memimpin dan
mengendalikan negeri seluas ini. Sedangkan aku tak bukan hanya putri kecil yang
berumur 17 tahun. Tahu apa tentang masalaah kerajaan.“Isabel, kamu tak usah
bingung. Bibi dan paman akaan mendampingi mu. Selama kau menggantikan ayah mu.”
Aku pun merasa senang bibi dan paman selalu baik pada ku. Aku pun memeluk
mereka berdua. Saaat itu Juan tsk terlihst batang hidungnya. Hanya kado dan
surat yang ia titipkan kepada salah satu pengawal.
Ulang
tahun ku ini terasa berbeda dari tahun-tahun biasanya. Bukan karena kado yang
ku terima lebih kecil, namun ketidak hadiran Juanlah penyebabnya. Saat kado dan
surat Juan diberikan pada ku. Dengan cepat aku berlari menuju kamar ku, sembari
membawa kado dan surat itu. Rasa penaasaran ku pun kian menjadi. Sesampainya
dikamar. Aku sudah tidak sabar lagi untuk membuka surat dari Juan. Dengan cepat
ku buka surat itu.
“Happy birthday putri Isabel. Maaf
aku tidak bisa datang. Aku tahu kau pasti ingin tahu apaa alas an ku hingga tak
bisa hadir dipesta ulang tahun mu. Sekaligus penobatan mu menjadi Putri yang
memimpin kerajaan. Aku malu berteman dengan mu. Aku hanya rakyat biasa, sedangkan
kau adalah seorang putri kerajaan. Tak sepantasnya berteman dengan Tuan Putri.
Ijinkan aku tuk pergi meniti kehidupan ku sendiri. Aku akan bekerja di Negeri
Seberang. Maafkan aaku yang mulia.”
Tertanda
Juan Mahesa
Tak
ku sangka butiran air mata memetes dipipi ku, membasahi surat Juan. Aku tak
sanggup kalau harus berpisah dengannya. Ku sapu air mata ku, perasaan ku
menjadi terluka. Namun, aku teringat akan penobatan ku. Sekarang aku sudah
menjadi seorang Putri yang memegang kerajaan. Tak sepaantasnya aku menangisi
hanya karena hal sekecil ini. Aku harus terlihat kuat dimata rakyat ku.
Bagaimana pu aku adalah seorang Putri. Tidak boleh terpuruk oleh keadaan.
Diluar sana rakyat ku memerlukan ku.
***
Semenjak
kepemimpinan Putri Isabel, Negeri Seribu Cahaya menjadi semakin Berjaya. Makmur akan sumber
daya alam yang dimiliki Negerinya. Rakyat pun msangat senang karena dipimpin
oleh putri yang sangat baik hati juga cantik jelita. Kehidupan dalam Istana
begitu ceria, bahkan tak jarang Putri Isabel berkeliling Desa untuk melihat
keadaan rakyat-rakyatnya. Kehadiran Tuan Putri disambut dengan baik oleh rakyatnya. Semua orang tahu kalau Tuan Putri
seseorang yang periang yang mampu menghibur orang lain yang berada didekatnya.
Tak
lama kemudian tersiarlah kabar tentang kemakmuran Negeri Seribu Cahaya. Beita
ini terdengar sampai ke telinga Raja Fernando. Raja Fernando adalah Raja Negeri
Seberang yang terkenal akan keserakahannya. Mendengar berita itu raja Fernando
pun berniat ingin menyerang kerajaan Putri Isabel itu. Raja Fernando sangat
berambisi untuk menguasai Negeri itu yang makmur akan sumber dayaa alam berupa
batubara,intan,minyak bumi dan juga tambang emas yang melimpah.
Keserakahan
dan ketamakan telah berhasil menggelapkan mata hati Raja Fernando. Dia tak
segan-segan melakukan cara yang jahat
sekalipun demi mewujudkan keinginannya itu. Hari itu Raja Fernando
memerintahkan seluruh prajurit dan pannglima perang kerajaan untuk berkumpul
menghadapnya. “Pengawal beritahukan kepad seluruh prajurit dan panglima agar
bekumpul didepan Istana. Cepaaat !!!.” Ba…baiiik Tuan.”
Pengawal
pun pergi meninggalkan Raja. Ia lalu mengumumkan kepada seluruh prajurit dan panglima perang untuk menemui Paduka
didepan Istana sekarang ini juga. Mendengar pemberitahuan itu semuanya langsung
bergegas menuju halaman depan Istana. Mereka tidak ingin sampai Raja Fernando
menunggu lama. Mereka tahu bagaimana kalau Raja Fernando sedang murka, semuanya
akan kena masalah.
Selang
beberapa menit Raja Fernando datang. Semua yang ada disana langsung berdiri
menundukkan kepala, tanda penghormatan keada Raja mereka. Kursi megah, berkilau
yang terbuar dari emas. Serta disekeliling kursinya dipenuhi oleh permata. Tak
hanya itu, setiap detail kursi itu pun dibuat dengan penuh perhatian, serta
letak tempat setiap permata. Dapat dilihat dari kursi singgasananya saja sudah
menandakan bahwa betapa sekarakahnya Raja Fernando ini. Setelah Raja Fernando
duduk kursi itu, ia lalu memberitahukan tujuan serta maksud hatinya mengumpulkan
semua prajurit dan panglima perang. Salah seorang panglima mengajukan
pertanyaan kepada Raja Fernando. “Maaf Paduka, apakah ada suatu masalah yang besar hingga Paduka
mengumpulkan kami disini. Sepengatahuan hamba keadaan Istana serta kerajaan kita
baik-baik saja.” Mendengar pertanyaan
itu Raja Fernando tersenyum, tak pernah dia tersenyum manis seperti ini. Ada
apa ini?
Melihat
Raja tersenyum semua prajurit yang berkumpul menjdi terheran-heran atas
senyuman Raja Fernado, semuanya semakin penasaran. “Yak au memang benar
panglima.” Melihat ekspresi wajah sang Raja. Mereka semakin bingung. “Untuk apa
mengumpulkan semua orang kalau tidak terjadi apa.” Gerutu salah seorang
prajurit kepada temannya. ”Lalu tentang perihal apa kah ini Paduka?.” Apakah kalian
tahu dengan kerajaan Seribu cahaya. Negeri yang dipimpin oleh Putri Isabel ?.”
“Ya.” Semuanya serentak menjawab pertanyaan Sang Raja. “Semua orang juga
mengetahuinya, karena kemakmuran Negeri itu. Hasil bumi dan tambang emas juga
sangat melimpah di Neggeri itu”. Jawab seorang prajurit lainnya. Raja Fernando
tertawa dengan angkuhnya. “Hahaaaa. Kau benar sekali Prajuri ku. Kalian pasti
sudah tahu tujuan ku kan? Aku ingin mengusai Negeri itu. Aku ingin merebut
kekuasaan Putri Isabel. Besok siapkan 10.000 prajurit, untuk menyerang kerajaan
Putri Isabel.”
Keesokan
harinya dengan waktu yang begitu singkat, Raja Fernando beserta seluruh pasukannya
pergi menuju kerajaan Seribu Cahaya. Raja Fernado dengan semangat yang
berkobar-kobar untuk merebut kekuasaan dari tangan Putri Isabel.
“Prajuriiiiiit. Apakah semuanya sudah
dipersiapkan?.”
“Sudah Paduka.”
“Pastikan
bahwa kita membawa pasukan yang banyak. Kita akan berhadapan dengan Putri
Isabel yang mempunyai pertahanan yang sangat kuat.”
Segala
sesuatu telah dipersiapkan. Sesuai dengan permintaan Sang Raja mereka membawa
Prajurit yang begitu banyak. Dengan
strategi yang luar biasa. Begitu semuanya telah dipersiapkan Raja Fernando
beserta prajuritnya pergi menuju kerajaan Putri Isabel. sekitar pukul 04.00
Raja Fernando serta pasukannya berangkat.
Putri
Isabel yag mengetahui bahwa Raja Fernando ingin menyerang kerajaannya, dengan
segera Putri Isabel pun memerintahkan kepada seluruh prajurit untuk segera
berjaga-jaga disekitar Istana. Tak tanggung-tanggung Putrri Isabel turun tangan
menghadapi Raja Fernando. “Itu dia kerajaan Putri Isabel. Seraaaaaaang !!!.”
Suara gemuruh yang disebabkan oleh hentakan kaki kuda yang dipacu dengan cepat
semakin jelas terdengar. Pasukan Purti Isabel yang telah berjaga didepan Istana
bersiap untukmenyerang menunggu perintah dari Sang Putri. Putri Isabel dengan santainya berdiri paling
depan. Menunggu kedatangan pasukan Raja Fernando. “Berhentiiii!!!.” Dengan
suara yang lantang sang Putri berteriak, menyuruh pasukan Raja Fernando tuk berhenti.
Raja
Fernando memerintahkan kepada pasukannya tuk menghentikan gerakan kudanya. Raja
Fernando berhenti tepat didepan Putri Isabel. “Kau bukan Raja dikerajaan kami.
Jadi kau tidak punya kekuasaan untuk memerintah kami semau mu hahaaa…” Semua
pasukan Raja Fernando menertawai Putri Isabel. “Aku tidak segan-segan
menghabisi nyawa mu. Jadi, ku harap sebelum hal itu terjadi sebaiknya
menjauhlah dari kerajaan ku.” Putri Isabel marah kepada Raja Fernando yang
dianggapnya begitu lancag memasuki kawasan kekuasaannya. “Memang kau siapa?
Hahaaa sekuat apa kekuatan mu. Berani sekali kau menantang ku. Dengar kau
hanyalah seorang perempuan biasa yang lemah. Bahkan kau pun masih anak-anak tak
sepantasnya kau bertarung dengan ku. Menyerah lah Putri kecil hahahaaa.” Raja
Fernando meremehkan Putri Isabel. Mendengar perkataan Raja Fernando Putri
Isabel menjadi marah. “ Prajurit
seraaaaaaang !!!
“seraaaaaang
!!!
Perkelahian antara dua kerajaan pun
tak dapat dihentikan. Keduanya saling menyerang, mengerahkan semua kekuatan
mereka demi pempertahankan kerajaan masing-masing. Sempat beberapa kali putri
Isabel terjatuh. Namun, dengan keberanian yang ia miliki ia tetap kuat. Demi
rakyatnya Putri Isabel mencoba terua maju kepan mencari Raja Fernando. Entah
apa yang membuat Putri Isabel ingin sekali membunuh Raja yang serakah itu.
Diantara kerumunan prajurit ia menemukan Raja Fernando. Sambil mengacungkan
pedang keleher Raja Fernando ia berkata “Jangan pernah kau meremehkan ku.
Walaupun aku hanya seorang perempuan.” “Buktikan lah..”Raja Fernando menentang
Sang Putri.” Maka terjadilah perkelahian antara keduanya. “ting…tiing...” Suara
pedang antara keduanya kian sangat cepat terdengar. Saling berusaha melindungi
diri masing-masing. “Takkan pernah ku
biarkan Negeri ku dikuasi oleh raja serakah seperti mu.” Lihat saja siapa yang
menang aku atau kau Putri kecil.” Keduanya saling mengadu pedang mereka.
“Hiaaat…ting..”
“Ting…
ting… rasakan ini.”
“Aaaaaaaaaaaaa”
Terdengar suara jeritan Putri Isabel. Putri Isabel jatuh tersungkur ditanah.
Tangannya gemetar, tubuhnya terasa begitu sakit terpentang jatuh ketanah. Ia
teringat akan kedua orang tuanya serta
rakyat-rakyatnya. “Jika aku menyerah dan kalah pasti Ayah,Ibu, serta rakyat ku
pasti kecewa pada ku.” Putri Isabel langsung bangkit berdiri kemudian balik
menyerang Raja Fernando. Seperti dapat kekuatan yang membuatnya kuat.
Raja Fernando semakin garang. Begitu lihainya ia
memainkan pedangnya. Tiba-tiba terdengar lagi suara jeritan kedua kalinya.
Jangan-jangan Putri Isabel terkena tebasan pedang Raja Fernando lagi. Ternyata
Putri Isabel tidak terluka, melainkan perut Raja Fernando yang terkena tebasan
pedang Putri Isabel.” “Aaaaaaaaaaaaaaaaaa.” Raja Fernando kesakitan. Pasukan
Raja Fernando pun kian menipis, kalah melawan pasukan Putri Isabel yang
mempunyai strategi yang tak kalah hebat dari prajurit Raja Fernando. Kondisi
perut terluka membuat keseimbangan tubuh Raja Fernando tidak stabil. Ia
terjatuh dari atas kudanya dan tersungkur ketanah. Melihat kaadaan itu Putri
Isabel menyerang. Ia berniat membunuh Raja Fernando dengan mengayunakan
pedanganya ketubuh Raja Fernando. “Kau sudah tak punya kekuatan lagi, maka
rasakan ini.” “Hiaaaaaat..”
Tiba-tiba
apa yang terjadi. Sesuatu yang tidak diinginkan, yang tidak sesuai dengan
rencana sebelumnya telah terjadi. Tubuh Putri Isabel terpental jauh. Ternyata
salah seorang prajurit kerajaan Fernado
menyerangnya. Prajurit itu mengangkat Raja Fernando lalu membawanya begitu saja
tanpa memprdulikan Putri Isabel. Pasukan Raja Fernando perlahan mundur. Peperangan pun dimenangkan
oleh Putri Isabel dan pasukannya.
“Horeeeee…” Semua prajurit kerajaan Putri
Isabel berteriak kegirangan atas kemenangan mereka. Puri Isabel menghela nafas
panjang. “Putri tidak apa-apa, apakah ada yang terluka?.” Tanya salah seorang
prajurit. “Aku baik-baik saja.” Jawaban bahagia dari Sang Putri dibarengi
dengan senyuman manisnya. Semua prajurit diperintahkannya masuk kedalam Istana,
srta mengobati prajurit yang terluka.
***
Semenjak
terjadinya peperangan itu, kerajaan Putri Isabel menjadi tentram. Semua rakyat
menyayangi Tuan Putri, mereka bangga kepadanya yang berani turun tangan melawan
musuh. Kehidupan di Istana serta di Negeri itu penuh keceriaan. Tapi hal ini
bertolak belakang dengan keadaan kerajaan Fernando. Bertahun-tahun lamanya Raja
Fernando jatuh sakit akibat luka dibagian perutnya bekas terkena tebasan pedang
Putri Isabel. Luka itu memang sudah lama. Namun, tak juga kunjung sembuh.
Hari-hari Sang Raja selalau dilewati ditempat tidur. Telah banyak tabib yang berusaha
untuk mengobatinya. Usaha itu selalu gagal.
Keadaan
ini membuat Raja Fernando sangat menderita. Mungkin Karena rasa sakit yang kian
parah yang membuatnya merasa demikian. Tak ada yang bisa ia lakukan selain
terbaring lemah ditempat tidur. Sampai suatu ketika dihadapan panglima dan
mentrinya. Ia mengatakan bahwa ia ingin
Putri Isabel mati. Ia ingin Putri Isabel juga
merasakan penderitaannya. “Aku raja Fernando bersumpah, siapa saja yang
dapat membunuh Putri Isabel dan membawanya salah satu anggota tubuhnya
kehadapan ku. Dia akan ku angkat menjadi pegganti ku, sebaagai Raja di negeri
ini.”
Secara
kebetulan seorang Tabib mendengar hal itu. Tabib itu tak lain adalah Juan. Juan
telah lama menjadi Tabib dikerajaan itu. Ia berpikir “Ini adalah kesematan ku
untuk menjadi seorang raja. Bukankah ini cita-citaku sejak kecil. Menjadi
seorang raja yang terkenal, punya Istana yang megah, serta memiliki harta yang
berlimpah. Ya, aku ingin hidup enak, aku ingin mengubah nasib ku, aku akan
mencobanya. Tapi bbagaaimana mungkin aku membunuh Isabel sedangkan dia adalah
sahabat ku. Aaaah… tidak mungkin aku melakukan hal bodoh semacam itu. Tapi aku
ingin menjadi raja, aku tidak ingin menyianyiakan kesempatan ini.” Sesuatu yang
tidak pernah terpikir. Seorang sahabat sekaligus orang yang dicintai diam-diam
ternyata tega ingin membunuh Putri Isabel. Hanya karena harta dan jabatan.
Bukan saja mata yang gelap namun, ata hati pun juga ikut gelap karena uang.
Uang, harta dan tahta dapat saja mengubah segalanya. Menjadikan orang baik
menjadi jahat.
Besok
harinya juan pergi ke Negeri Seribu Cahaya, berniat ingin menemui Putri Isabel.
Sesampainya disana, kedatangan Juan disambut bahagia oleh Putri Isabel.
Bagaimana tidaak bahagia, melihat sahabat sekaligus lelaki yang dicintai berada
dihadapannya.
“Juan, apakah itu kau?.”
“Iya,
ini aku Juan, Tuan Putri.”
“Jangan
panggil aku dengan sebutan Tuan Putri, panggil saja nama ku. Kau kan sahabat
ku.”
Dengan
wajah dan mata yang berbinar-binar
keduanya berpelukan. Melepas semua kerinduan yang telah lama mereka rasakan.
Juan
dan putri Isabel menuju sebuah taman, tempat yang dulu menjadi tempat bermain
mereka berdua. Sekaligus tempat tuk menghabiskan waktu berdua disana. Taman ini
menjadi saksi bisu persahabatan mereka, menjadi kenangan waktu mereka kecil.
“Juan
semenjak kau pergi hidup ku terasa kurang. Taka da lagi yang menghibur ku
setelah rasa penat dan letih menjadi Putri dikerajaan ini. Beruntung kali ini
kau datang., aku ingin menceritakan semua rasa gundah pada mu.”
“Ya Isabel, ceritakan lah semuanya pada ku,
aku akan mendengarkannya.”
“Kau
memang lelaki yang baik Juan.” Ratu Isabel tersenyum sambil menatap wajah Juan.
“Boleh kah aku merebahkan kepala ku dipangkuan mu. Mehilangkan segala rasa
penat yang aku rasakan.” Juan menyahut, tanda mengiyakan permintaan ratu
Isabel. Sebelum sang Putri Berbaring dipangkuan Juan. Juan menyuguhkan segelas
the kepada sang Putri. Semua orang tahu bahwa the baik untuk membantu
meningkatkan mood seseorang agar pikiran menjadi tenang.
Setelah meneguk segelas the, Putri
Isabel kembali merebahkan kepalanya kepangkuan Juan. Isabel bercerita segala
hal pada Juan. Canda serta tawa menyertai mereka berdu. Sebuah taman mampu menyatukan keduanya. Merasa lelah, Putri
Isabel tertidur pulas dipangkuannya Juan. Juan dengan niat awalnya. Ia melihat
kearah gelas teh yang tergeletak ditas rerumputan. Teh itu telah diberi obat
tidur oleh Juan. Juan menatap wajah Isabel, yang tertidur pulas
dipangkuannya. Juan kembalii lagi kepada
rencananya, yang ingin membunuh Isabel.
“Maafkan
aku Isabel, ini adalah kesempatan ku untuk meraih cita-citaku. Ia mengangkat
kepala Isabel dan meletakkannya diatas jaket yang ia lepas hanya untuk sebagai
alas kepala Isabel.
Juan
berdiri lalu mencabut pedangnya dari sarungnya. Perlahan namun pasti dia
mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan berniat menebaskannya ketubuh Isabel.
Pedang itu tepat ditubuh Isabel. Tubuh dan tangan Juan gemetar, ia menghentikan
ayunan pedangnya. Juan tersungkur dihadapan Putri Isabel, ia tak kuasa
melakukan hal itu pada Isabel. Apalagi kalau mengingat kebaikan, serta
persahabatan yang mereka jalin selama ini.
“Sejak
kecil aku dan dia selalu bersama. Tak mungkin aku membunuhnya.” Butir-butir air
mata tak terasa jatuh dari mata Juan. Perasaanya menjadi kacau , ia delema.
Disisi lain dia ingin menjadi seorang raja, namun dari sisi yang lain ia tak
sanggup membunuh sahabatnya. Orang yang sangat dicintainya. Waktu yang lama
membuat Juan tersadar dengan tujuan awalnya yaitu membunuh Isabel dab menjadi
raja. Lagi-lagi ia tersungkur. Semuanya dapat saja terkalahkan denngan
iming-iming harta dan tathta. Namun , perasaaan tidak pernah bisa dibohongi.
Sekuat-kuatnya caangkang yang melindunginya, namun masih ada bagian lunak
ditubuhnya yaitu hati. Dalam hatinya perasaan sayang terhadap Isabel masih ada.
Rasa cinta serta kasihan nya telah terkalahkan oleh rasa keinginannya yang
besar menjadi raja. Untuk ketiga kalinya Juan pun kembali mengambil
ancang-ancangnyauntuk menebaskan pedangnya ketubuh Isabel. Nat yang tadinya begiu
kuat ingin membunuhnya namun Juan hanya
menebaskan pedangnya kelengan Isabel.
Isabel masih tetap terjaga dalam
tidurnya. Ia tak mengetahui hal yag telah menimpa dirinya. Juan yang melihat
lengan Putri Isabel yang terpotong, merasa sangat bersalah atas apa yang telah
dilakukannya. Tak terasa ia menatap wajaah Isabel yang tertidur.
“Maafkan
aku Isabel.” Juan langsung meninggalkan Putri Isabel dan membawa potongan
lengan kiri Isabel. Potongan lengan itu dibungkusnya dengan selembar kain. Agar
tidak ada yang mengetahuinya. Dalam perjalanannya menuju kerajaan Fernando Juan
mendengar teriakan Putri Isabel. Teriakan dan tangisan yang sungguh menyayat
hati Juan. Diselimuti rasa bersalah ia tetap melanjutkan langkahnya memancu
kudanya dengan cepat. Ratu Isabel terbangun daari tidurnya. Awalnya ia tidak
mengetahui lengahnya putus. Ia hanya merasakan sakit dibagia lengan kirinya.
Setelah sadar ia melihat lengannya putus. Ia menangis sembari berteriak sekuat
tenaganya. Ratu Isabel tak menyangka bahwa Juan
telah melakukan itu padanya.
“Siapa
orang yang telah berani menebas lengan ku?. Juan, iya Juan. Hanya dia yang
bersama ku disini. Siapa lagi kalau bukan dia orangnya?.” Amarahnnya pu kian
menjadi setelah mengetahui orang yang selam ini ia percaya. Sahabatnya tega
melakukan itu padanya. Ratu Isabel menangis sembari tidak percaya. “Aku
menyesal telah mencintainya.”
Isabel
bangkit dari tidurnya,ia mecoba untuk berjalan. Namun, rasa sakit itu
membuat tubuhnya tak seimbang
berdiri.”Ia mencari potongan ranting menjadikannya tongkat untuk membantu ia
berjalan. Rasa sakit itu kian terasa hingga tubuhnya tak sanggup lagi berjalan.
Membuat ia tersungkur ketanah.ia berusaha menahan rasa sakit itu kemudian
kembali berdiri dan kembali meraih tongkatnya. Setiap apa saja yang dilaluinya
langsung berubah. Dedaunan yang rindang langsung kering, rerumputan yang hijau
mati.Hamparan hijau rerumputan langsung menjadi
tandus , burung-burung beterbangan. Langit yang tadinya cerah langsung
berubah menjadi gelap. Seakan semuanya tahu dan merasakan bagaimana perasaan
Putri Isabel. Dengan jalan tertatih-tatih Putri Isabel memasuki Istana nya.
Semua orang merasakan aada yang berbeda dari Putri Isabel.
“Astagaaa tangan kirinya mana.” Kata salah seorang diantara mereka kepada
rekannya. Putri Isabel menatapnya. Dengan tatapan yang tajam berbeda dengan
sebelumnya. Semua orang menjadi takut
padanya. Seakan amarah Putri Isabel kian memuncak. Pengkhiatan sesuatu yang
paling kejam. Oraang yang awalnya baik
berubah menjadi orang jahatt. Begitu pun dengan Putri Isabel. Semenjak kejadian
itu semua rakyat nya menjadi takut padanya. Kerajaan hidup dengan penuh rasa
amarah sang Putri. Dia tak terlihat ceria seperti dulu lagi. 360 derajat
terbalik dari biasanya.
Berbeda dengan Juan, sesampainya
dikerajaan Fernando. Ia langsung menyerahkan potongan lengan Isabel kepada raja
Fernando. Raja Fernando yang melihat potongan lengan itu terkejut. “Bagaimana
kau bisa melakukannya. Kau sungguh hebat Juan. Aku akan menepati janji ku. Kau
akan ku anngkat menjadi raja, meengantikan aku.”
***
Berita
pengangkatan Juan sebagai raja terdengar
sampai ketelinga putri Isabel. Amarahnya kian memuncak. “Terbukti sudah bahwa
dia rela melakukan ini hanya karena ingin menjadi seorang raja.” Salah satu
pengawal memberitahukan paadanya bahwa Juan ingin melangsungkan pernikahan
dengan putri raja Fernando.
Hari
ini Juan akan menikah. Hari ini adalah hari kebahagiaannya. Juan tidak membagi
kebahagiaannya dengan sahabatnya itu. Selama acara pernikahan berlangsung.
Putri Isabel tidak diundang. Putri Isabel hanya bisa terdiam dengan apa yang
dilakukan Juan kepada diirinya. Rasa
sayang telah berubah menjadi kebencian. Tiba saatnya permaisuri melahirkan .
Isabel mengetahui ini semua dari seseorang yang dekat dengan Juan.
Kelahiran
seorang anak didalam kerajaan menjadi hal yang perlu dirayakan. Hari itu raja
Juan dan permaisuri ingin mengadakan sebuah pesta besar. Sebagai pesta
pemberkatan anak mereka. Bayi yang lucu, terlihat dari paasnya bahwa kelak sat
ia dewasa akan menjadi seorang putri yang cantik. Pesta itu berlangsung sangat
meriah. Raja Juan tidak pernah berpikir bahwa Purti Isabel akan datang
kepestanya. Putri Isabel bermaksud datang ingin melihat sang bayii. Semua orang menjadi takut dengan
kedatangannya. Purti Isabel ingin ikut memberkati bayi Juan. Namun, Juan tidak
pernah membiarkan hal itu terjadi.
“Mau
apa kau datang ke Istana ku.”
“Aku ingin memberkati anak mu.”
“Jangan
pernah ka sentuh anak ku. Aku tidak akan mengizinkan mu memberkati anak ku,
Isabel. Pengawal tangkap dia jangan biarkan dia menyentuh anak ku.” Isabel
ditangkap dengan cara paksa. Merasa terhina Putri Isabel mengalah ia memilih tuk
pergi meninggalkan Istana Juan.
Juan yang dpenuhi rasa bersalh. Ini
merasa seolah-olah kedatangan Putri Isabel adalah untuk mencelakan Putri
kecilnya. Ia berpikir Isabel akan balas denda atas hal yang telah perah dia
lakukan kepada Isabel. Disebuah kamar rahasia tempat Juan menyipan potongan
lengan Putri Isabel. Ia menangis disertai rasa penyesalan yang mendalam.
Terkadnag ia tertawa dengan sendirinya tanpa ada yang tahu ia tertawa karena
apa. Metal Juan tertekan karena ia tidak mampu lagi membendung pikirannya . Ia
seprti orang yang kehilangan akal sehatnya. Ia merasa hidupnya tak akan pernah
tenang, jika ratu Isabel masih hidup. Juan berniat ingin membunuh Isabel. Rajaa
Juan mengerahkan segala kekuatan yang ia miliki untuk menyerang kerajaan
Isabel. Keadaan yang putus membuat Putri Isabeltak dapat melawan banyak. Ia
tertangkap dan dibawa ke Istana, diserahkan kepada Raja Juan.
Sesampainya di Istana Putri Isabel
didorong, ia terjatuh dihadapan Juan. Isabel menoleh kearah Juan. Betapa
terkejutnya Isabel melihat Juan sudah memegang pedang ditangannya kanannya.
“Juan apa yang ingin kau lakukan pda ku, apakaah kau ingin membunuh ku.” “Kau
benar Isabel aku ingin membunuh mu. Karena hidup ku tak tenang bila kau belum
mati. Kali ini aku akan membunuh mu.” Lagi-lagi hal ini mebuat Putri Isabel
terkejut. “Tidak puas kah kau selama ini sudah membuat aku menderita, memotong
lengan ku hanya karena kau ingin menjadi seorang raja. Sekarang kau ingin
membunuh ku lagi. Lakukan lah semua keinginan mu Juan.”
Saat yang bersamaan prajurit dari
kerajaan Isabel datang, menobrak pintu pertahanan kerajaan Juan. Karena mereka
tahu kalau Putri Isabel ditangkap dan dibawa oleh prajurit Juan. Pasuk yang
banyak membuat Juan memerintahkan prajuritnya tuk melawan pasukan Isabel. Terjadilah
perang yang sangat besar antar kedua kerajaan hingga menewaskan Permaisuri.
Perang tak dapat dibendung lagi, amarah serta kekesalan telah menyelimuti Putri
Isabel. Kali ini Putri Isabel berhadapan
langsung dengan Juan. Juan memukul Putri Isabel dari belakang hingga membuatnya
jatuh tersungkur. Kondisi tubuh yang tak lengkap membuat Putri Isabel lemaah,
ia tak dapat melawan.
“Isabel,
mana kekuatan mu. Hanya segini sajakah kekuatan yang kau punya?. Ayooo lawan
aku Isabel.” Putri Isabel tesungkur, kepalanya mengenai tembok Istana. Dengan
keadaan tangan kanannya sambil merintih menahan rasa sakit. Ia mencoba
mengangkat tubuhnya dan berdiri.
“Juan
inikah pembalasan mu kepada ku. Setelah kau ingn membunuh ku.”
“Hahahaaa
tentu saja. Itulah tujuan awal ku. Aku akan membuuh mu Isabel. Kau tahukan dari
kecil aku ingin menjadi raja dan itu telah ku dapatkan.
“Apakah
sekarang kau puas mengorbankan aku untuk mendapatkannya.”
“Tidak,
aku belum puas. Kalau aku belum membunuh mu. Aku merasa hidup ku tidaak akan
tenang jika kau masih hidup. Dan sekarang aku akan membuuh mu.”
“Kau
memang kejam Juaaaan. Tak seharusnya kau menjadi raja.”
“Apaaaaa…kau
berani mengatakan itu pada ku.”
Juan mengarahkan tebasan pedangnya
kearah Isabel. Isabel berhasil menghindarinya. Dengan keadaan terjatu Isabel
mencoba meraih pedang yang tergeletak disampingnya. Perlahan ia terus mencoba
meraihnya. Jarak Isabel dengan pedang itu terlalu jauh. Tiba-tiba datang dengan
hawa jahat. Menebaskan kembali pedang itu. Isabel berguling menghindarinya.
Hingga ia dapat meraih pedang itu. Dan menyerang balik Juan. Juan membalasnnya
hingga pedang itu mengenai jemarinya.
“Kau
takkan pernah bisa membunuh ku.”
Sssssst…tebasan
pedang Isabel mengenai perut Juan.Juan menjerit kesakitan. Mencoba mundur menhindari
Isabel. Namun Isabel tetap saja menyerang Juan. Juan terus mundur kebelakang.
Hingga akhirnya ia jatuh dari atas Isatana.
Keadaan
Istana berantakan, mayat-mayat prajurit memenihi ruangan. Juan serta istrinya
telah mati. Keadaan menjadi sepi. Putri Isabel dan pprajuritnya berniat untuk
pergi meninggalkan Istana itu. Langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara
tangisan bayi.
“Ya,
itu pasti bayi Juan.”
Isabel
berusaha mencari sumber tangisan itu. Ia menemukan keranjang kecil berwarna
merah tua. “Tidak salah lagi ini putri juan.”
“Tuan
Putri diapakan bayi ini. Haruskah aku membuhnya ?.”
“Jangan,
aku akan membawanya.”
Semua
heran dengan putri Isabel. Ia masih bisa
merawat anak dari musuhnya. Orang yang selama ini mengincar nyawanya. Isabel
membawa bayi itu pulang. Isabel merawat bayi itu dlam Istana dengan penuh rsa
kasih sayang.
Semua ingatan itu selalu saja
membuat Isabel teringat. Apalagi setelah ia melihat taman ini. Sosok mungil
berlari menuju kearahnya.
“Ibuuuu….”
Isabel merangkulnya
Ya,
itu adalah Putri Juan. Walaupun ia bukan anak kandung Isabel namun, ia tetap
menyayanginya. Isabel berniat untuk merahasiakan semuanya. Ia tak ingin putri
kecilnya mengetahui semua kelicikan ayahnya.
Sekeras-kerasnya cangkang melindunginya,
masih ada bagian lunak ditubuhnya yaitu HATI…
Selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar